
Pada 23 Januari 2019, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta mengadakan sebuah seleksi pemelihan delegasi untuk mengikuti kegiatan Law and Culture yang akan dilaksanakan di tiga universitas, yaitu Universitas Negeri Jakarta, Universitas Brawijaya, dan Universitas Leipzig, Jerman. Program Law and Culture merupakan program tahunan yang ditujukan untuk kerja sama akademis melalui pertukaran ilmu sehingga peserta dari masing-masing universitas bisa mempelajari budaya dan hukum antara dua negara yaitu Indonesia dan Jerman. Program ini di dukung oleh DAAD (Deurscher Akademischer Austauschdienst) atau layanan pertukaran pelajar Jerman. Program ini merupakan hasil dari kesepakatan pada Joint Summer Course pada tahun 2011. Sebelumnya, program ini bernama Exploring Legal Culture (2012 – 2016) namun kini telah berganti nama menjadi Law and Culture.

Delegasi yang dipilih berjumlah 5 (lima) orang yang berasal dari beberapa program studi yang ada di Fakultas Ilmu Sosial. Salah satu dari 5 (lima) orang delegasi tersebut adalah saya yang menempuh studi S1 di program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Adapun tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Women and Law” sehingga pembahasan dari setiap kegiatan selama program berlangsung yaitu membahas mengenai perempuan dan keterkaitannya dengan hukum. Mahasiswa dari Indonesia mempelajari mengenai hukum yang mengatur tentang perempuan dan budaya masyarakat Jerman begitupun sebaliknya.
Program ini berlangsung pada tanggal 25 Juni – 04 Juli 2019 dan dilaksanakan dalam tiga rangkaian yang bertempat di Universitat Leipzig, Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Brawijaya. Pada rangkaian pertama, program ini dilaksanakan di Universitat Leipzig, Jerman. Mengingat jarak antara Indonesia dan Jerman yang sangat jauh dan berbeda benua, kami berangkat ke Jerman 2 hari sebelum kegiatan dimulai, yaitu pada tanggal 22 Juni 2019. Perjalanan dari Indonesia ke Jerman sekitar 19 Jam dengan transit terlebih dahulu di Bandara Attaturk, Istanbul, Turki.

Sesampainya di Bandara Halle di Leipzig, kami melanjutkan perjalanan ke apartement dengan menggunakan kereta dan juga tram (sejenis TransJakarta dengan bentuk lebih menyerupai kereta di jalan raya). Selama di Leipzig, para delegasi dan dosen pembimbing dari Universitas Negeri Jakarta menginap di sebuah apartement bernama Haus Feueurbach (Trinom Bussiness Apartement) yang berada di jalan Feuerbachstraße yang jaraknya cukup dekat dengan Red Bull Arena Leipzig. Suasana di sekitar apartement cukup damai dan jarang sekali ada suara bising kecuali suara tram yang terkadang lewat pertigaan dekat apartemen. Berhubung pada saat di itu Jerman sedang musim panas, matahari akan terus bersinar hingga pukul 10 malam. Sehingga meskipun jam sudah menunjukkan malam hari, suasana malam disana masih masih seperti siang hari.

Esoknya, pada tanggal 24 Juni 2019, pukul 09.00 – 10.30, semua delegasi menghadiri Opening Ceremony of LaC Leipzig Program 2019 di Fakultas Sosial dan Budaya Universitat Leipzig. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Prof. Dr. Cristoph Enders, Prof. Dr. Monika Wohlrab-Sahr, dan koordinator Universitas Negeri Jakarta Heryanti Utami, MM. Par. Kemudian, pada pukul 10.30 – 11.00 para delegasi bergabung untuk join breakfast atau sarapan bersama, semua delegasi disuguhkan makanan khas Jerman. Setelah makan siang, delegasi dari Indonesia diajak berkeliling Universitat Leipzig dan sekitarnya dengan berjalan kaki.

Tak kenal maka tak sayang, setelah mengenal satu sama lain kami menjalin pertemanan yang baik dengan teman-teman dari Universitat Leipzig dan Universitas Brawijaya. Mereka dengan senang hati mengajak kami mengunjungi setiap tempat di sekitar Universitat Leipzig dan mengenalkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat disana. Jarak antara Fakultas Sosial dan Budaya ke Juristen Fakultat dan Kampus Utama Universitas Leipzig cukup jauh apabila ditempuh dengan berjalan kaki yaitu sekitar 2 km, akan tetapi perjalanan menjadi sangat menarik saat melihat pemandangan indah Kota Leipzig yang berpadu dengan embusan udara segar disana. Bangunan-bangunan di Leipzig cukup tertata dan jarang sekali ditemukan sampah di sepanjang jalan. Tanaman dan pepohonan tumbuh dengan segar, interior bangunan yang terkesan klasik dan banyak ditemukan air mancur menambah kesan indah sepanjang jalan. Apalagi saat disambut burung-burung merpati yang berterbangan seakan menambah kesan ala-ala Eropa.

Hari selanjutnya pada tanggal 25 Juni 2019, sesuai dengan rundown yang telah ditentukan, kami harus menghadiri tiga perkuliahan, yaitu perkuliahan mengenai Religion, Civil Society and personal (Family) Law oleh pembicara yang berasal dari India pada pukul 09.15 – 10.45. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan Payment of the living allowances pada pukul 11.30 – 12.00. Setelah mengenal satu sama lain, kami mempunyai banyak teman disana, Selanjutnya diadakan selection of working groups topic padapukul 14.00 – selesai. Setelah itu, para delegasi mempunyai waktu bebas untuk beristirahat ataupun menikmati suasana kota Leipzig (free time). Untuk menghabiskan waktu senggang, saya dan kawan-kawan berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat di Leipzig, seperti St. Thomas Church (Gereja), Altes Rathaus Markt Square (Pasar Tradisional), dan Hofe Am Bruhl atau salah satu nama mall di Leipzig.





Pada hari ketiga, tanggal 26 Juni 2019, para delegasi menghadiri kuliah yang disampaikan oleh dosen dari Universitat Leipzig yaitu Thomas Schmidt-Lux mengenai Law and Cultural Change from Sozioligical Perspective pada pukul 09.30 – 11.00. Saat jam isitirahat, kami diajak makan siang bersama teman-teman dari Leipzig di cafetaria, atau kantin kampus. Ada beberapa hal yang mengharuskan kami untuk beradaptasi di Leipzig, salah satunya dalam hal makanan. Masyarakat Jerman mayoritas adalah vegetarian yang setiap hari mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Mereka sangat memperhatikan sekali kesehatan mereka dan jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh mereka. Saya yang jarang sekali mengonsumsi sayur harus mencoba terbiasa untuk mengonsumsinya, terutama saat diundang pesta dan disuguhkan makanan-makanan yang terbuat dari sayuran. Manfaatnya, sepulang dari Jerman saya menjadi sedikit suka mengonsumsi sayur.


Di Jerman, kita bisa membeli daging, olahan daging (nugget, sosis, nugget) dan susu dengan harga murah. Tetapi, harga sayuran disana bisa dibilang mahal. Hal ini karena orang-orang di Jerman lebih senang mengonsumi sayuran dibandingkan dengan daging. Mereka sangat memperhatikan jumlah kalori yang mereka makan sehingga kesehatannya tetap terjaga.
Ada minuman khas mahasiswa di Leipzig, namanya Club Mate, rasanya hampir sama dengan teh soda (seperti T*bs) tetapi ada rasa pahit sedikit yang membuatnya menjadi unik tetapi tetap menyegarkan untuk diminum. Biasanya, mahasiswa disana membawa Club Mate ke dalam kelas utnuk diminum disela-sela kegiatan pembelajaran jika merasa haus dan mengantuk. Mengonsumsei Club Mate dapat menghilangkan kantuk karena Club Mate imengandung kafein seperti kopi. Meskipun bergitu, Club Mate tidak mengandung alkohol dan aman untuk dikonsumsi.

Setelah makan siang, kami harus menghadiri sesi kuliah kedua pada pukul 15.00 – 17.00, yang dilaksanakan di Regional Court (Pengadilan Regional), Leipzig. Kegiatan kuliah di pengadillan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hakim mengambil keputusan atau how judges decide mengenai permasalahan hukum keluarga dan perempuan, tempatnya tidak jauh dari kampus sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Pada hari keempat, tanggal 27 Juni 2019, terdapat kegiatan workshop tentang Reading and Writing Strategies across Languages pada pukul 09.00 – 13.00 workshop ini diselenggarakan oleh Lembaga bahasa Universitat Leipzig. Workshop ini hanya diikuti oleh para mahasiswa tanpa dosen pendamping yang juga menjadi delegasi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan istirahat makan siang, setelah itu para delegasi bisa menghabiskan waktu luang untuk working group (kerja kelompok) dengan anggota dan tema yang sudah ditentukan.

Pada hari kelima, tanggal 28 Juni 2019, kami menghadiri kuliah yang disampaikan oleh dari Prof. Zwanzger mengenai Introduction to Law and How It Changed pada pukul 10.00 – 11.30. Kemudian, setelah itu kami menghabiskan waktu istirahat denagan makan siang di sebuah kafe kebab yang ada dekat kampus. Di Leipzig, banyak sekali penjual kebab yang mana mereka adalah orang-orang Turki yang membuka usaha kebab disana. Kebab mereka juga banyak digemari masyarakat di Leipzig. Mereka juga selalu menyambut hangat para pengunjung yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Turki. Selain itu, kami juga tidak ragu mengenai halal atau tidaknya daging kebab tersebut karena mereka selalu memastikan bahwa makanan yang mereka jual adalah makanan halal meskipun tidak hanya orang muslim yang membelinya.
Seperti biasanya, setelah kuliah, para delegasi bisa menghabiskan waktunya dengan working group bersama teman satu kelompok atau istirahat di rumah. Masing-masing kelompok bebas untuk melakukan kerja kelompok dimanapun dan kapanpun sesuai dengan kesepakatan masing-masing kelompok.
Pada hari kelima ini, seorang kawan bernama Josephine dari Fakultas Hukum Universitat Leipzig berniat mengundang kami dan delegasi lainnya untuk datang menghadiri pesta di apartemennya. Josephine dan teman-teman dari Leipzig menyambut kehadiran kami dengan menyuguhkan makanan dan minuman khas Jerman. Mereka menyadari bahwa mayoritas orang Indonsia menyukai makanan pedas, oleh karena itu mereka menghidangkan beberapa makanan yang pedas seperti nasi kari dan sayur kacang. Meskipun tidak terasa pedasnya di lidah saya, beberapa dari mereka sampai berkeingat ketika memakannya. Meskipun begitu, kami sangat berterima kasih atas kebaikan hati dari teman-teman di Jerman yang sudah menjamu kami dengan baik. Kami menghabiskan waktu bersama hingga pukul 10 malam, dimana langit masih terang karena masih disinari cahaya matahari. Selain itu, esoknya pada tanggal 29 Juni 2019, kami juga diajak menonton opera sembari piknik di taman kota. Teman-teman dari Jerman membawa makanan untuk dinimati bersama-sama sambil menikmati pertunujukkan opera.
Waktu yang ditunggu-tunggupun tiba, pada hari ketujuh tepatnya hari Minggu tanggal 30 Juni 2019, kami berlima berniat menghabiskan waktu libur dengan pergi ke Berlin. Waktu yang ditempuh dari Leipzig ke Berlin yaitu sekitar 3 jam dengan menggunakan bus dan U-Bahn (kereta bawah tanah). Sesampainya di Berlin, kami mengunjungi The Berlin Wall, Charlie Point, Charlie Point Museum dan Brandonburgers. Semuanya begitu mengesankan, apalagi saat kami mengunjungi Brandonburgers yang merupakan tempat bersejarah di Jerman, bertepatan dengan kagiatan kampanye politik oleh masyarakat dengan pilihan politik tertentu. Kampanye berjalan damai dan menampilkan beberapa musisi untuk menghibur mereka termasuk kami yang juga ikut bergabung dan menikmati penampilan guest star itu.




Selama di Berlin, untuk mengelilingi Kota Berlin yang luas ini kami menaiki Hop on Hop off atau bis keliling. Dengan harga sekitar 27 Euro, kami sudah bisa membeli tiket untuk menaiki Hop on Hop off. Ohh ya, kalau kamu naik bis ini, kamu bisa turun untuk berfoto di tempat penghentian yang kamu inginkan kemudian bisa naik bis serupa dengan tiket yang sama alias yang sudah kamu beli tadi.




Jika kamu ingin membeli souvenir seperti tempelan kulkas dan gantungan kunci di Berlin, sebenarnya disana banyak sekali yang menjualnya. tetapi, penting bagi kamu untuk bertanyatanya terlebih dahulu. Harga gantungan kunci dan tempelan kulkas disana sekitar 3-6 Euro, lumayan mahal. Apalagi kalau dijual di dalam toko. Kamu bisa membeli dua tempelan kulkas atau dua kunci dengan harga 5 Euro di penjual yang menggelar lapak di pinggir jalan, biasanya mereka berkenan memberi harga murah jika kamu berusaha menawar.
Pada hari kedelapan, yakni senin tanggal 01 Juli 2019 kami kembali berkuliah, yang mana kuliah kali ini membahas tentang Women Worker Protection oleh Syahrul Sajidin pada pukul 09.00 – 11.00. Setelah itu kami menghabiskan waktu istirahat dengan makan siang bersama teman kelompok masing-masing di cafetaria dan melanjutkan kegiatan dengan working group. Saat itu, saya dan teman-teman mengerjakan tugas kelompok di Perpustakaan Juristen Fakultat. Kampus dan perpustakaan ini ada di mall akan tetapi ruangannya sangat nyaman untuk belajar, Tidak ada suara bising apapun dari mall yang terdengar ke dalam ruangan kampus yang kedap suara. Untuk masuk ke dalam perpustakaan, saya harus masuk terlebih dahulu ke mall tersebut dan menaiki eskalator sebanyak 2x. Cukup menarik, mereka mengatakan bahwa kampus sangat memerhatikan kenyamanan mereka belajar. Beberapa dari merekea terkadang mengunjungi bioskop setelah perkuliahan selesai atau makan di foodcourt daat jam istirahat.
Pada hari kesembilan, tanggal 02 Juli 2019, kami menghadiri kuliah dengan tema Sexual Morality and the Law of QANUN JINAYAT for Woman and LGBT in Nangroe Aceh Darussalam yang disampaikan oleh Fines Fatimah pada pukul 09.00 – 11.00. Saat jam istirahat, masing-masing delegasi menghabiskan waktu bersama dengan teman satu kelompoknya. Saat itu, saya dan teman-teman saya mengunjungi Primark, yaitu toko yang menjual barang-barang dengan harga murah dan berkualitas. Selain itu, kami juga mengunjungi Lidl dan Aldi, toko ini menjual barang-barang dan makanan dengan harga terjangkau dan seringkali menjadi tujuan para pelancong untuk membeli oleh-oleh. Untuk membeli makanan khas Indonesia atau khas Asia, kami mengunjungi Asian Bitsro, yaitu rumah makan berlantai dua yang di lantai atasnya merupakan toko yang menjual beraneka macam makanan yang berasal dari negara-negara di Asia, salah satunya adalah tempe. Setelah itu, kami kembali ke kampus dan kembali mengikuti perkuliahan tentang Discussion with a Female Lawyer pada pukul 14.00 – 15.30. Kelas kali ini dibawakan oleh seorang pengecara perempuan yang sudah cukup terkenal di Leipzig.
Hari kesepuluh, adalah hari terakhir kami di Leipzig, kota kecil penuh dengan cerita. Pada hari terakhir ini, para dosen melakukan LaC-Evaluation and Planning Meeting, yang bertujuan untuk mengevaluasi dan merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan tahun berikutnya. Setelah itu, untuk menutup kegiatan, kami semua merayakan farewell dinner di taman hutan kota, suasananya seperti piknik, beberapa kawan-kawan dari Jerman membawa beraneka kudapan khas Leipzig dan kami juga juga melakukan barbeque. Acara tersebut begitu hangat dan terkesan santai, satu sama lain saling mengobrol berbagi pengalaman di tengah musim panas yang cerah. Kami juga memberikan setiap delegasi mahasiswa dan dosen sebuah cinderamata khas Indonesia yaitu penanda buku/bookmark berbentuk tokoh wayang dan terdapat penjelasan tentang tokoh wayang tersebut dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris. Acara berlangsung sampai pukul 10.00 malam dan kami berjalan kaki dari taman hutan kota ke apartment karena tidak jauh jaraknya.

Sebelum meninggalkan Leipzig, kami menghabiskan waktu sore dengan mengunjungi Museum Yoko Ono yang baru saja dibuka. Museum ini awalnya juga ada di Tokyo, Jepang, merupakan museum yang dibangun oleh Yoko Ono Lenon, untuk mengenang suaminya John Lenon yang merupakan vokalis grup musik The Beattles. Karena waktu itu museum ini baru dibuka, kami mendapatkan tiket gratis masuk dan melihat sejumlah karya-karya artistik yang ada di dalamnya.


Esoknya, yakni tanggal 05 Juli 2019, kami bersiap-siap untuk pulang dengan keberangkatan pesawat pada sore hari. Sambil menunggu, kami menghabisi waktu pagi dan siang hari untuk belanja oleh-oleh. Kemudian kami berangkat ke Bandara Halley sebelum boarding dengan menggunakan kereta. Tanggal 06 Juli 2019 kami sampai dengan selamat di Indonesia. Begitu banyak pengalaman, pengetahuan dan teman yang kami dapatkan di Leipzig, Jerman. Sekarang, Jerman menjadi salah satu negara favorit saya. Terima kasih untuk sekian banyak cerita yang saya dapatkan di Jerman, semoga saya masih bisa mengunjungi Jerman dilain kesempatan.